Selasa, 24 September 2013

makalah falsafat agama



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan kami semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang berjudul “ Falsafat Agama” dapat selesai seperti waktu yang telah kami rencanakan. Tersusunnya karya ilmiah ini tentunya tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak H. Imamul Arifin, Lc., M.Hi selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3. Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini dapat kami selesaikan.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang tulus dan ihklas kepada semua pihak yang penulis sebutkan di atas. Tak ada gading yang tak retak, untuk itu kamipun menyadari bahwa makalah yang telah kami susun dan kami kemas masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan

Surabaya, 19 September 2013



Penulis 


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. 1
DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah.................................................................... 3
1.2  Rumusan Masalah.............................................................................. 4
1.3  Tujuan................................................................................................ 4
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1  Prinsip Kaidah Suatu Agama................................................................5
2.2  Macam – Macam Agama................................................................... ..6
2.3  Sumber Ajaran Suatu Agama & Sumber Ajaran Agama Islam............7
2.4  Filsafat Agama Islam............................................................................9
2.5  Fungsi Agama .................... ................................................................12
BAB 3PENUTUP
3.1   Kesimpulan....................................................................................... 17
3.2  Saran................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 18



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
A. Latar Belakang         
M
enurut islam pendidikan adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu ajaran islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kegiatan yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita, dan berlangsung seumur hidup, semenjak dari buaian hingga ajal datang.
      Kedudukan tersebut secara tidak langsung telah menempatkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan umat manusia. Dalam hal ini Dewey   berpendapat bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup (a necessity of life) salah satu fungsi sosial (a social function) sebagai bimbingan (as direction), sebagai sarana pertumbuhan (as means of growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup, lewat transmisi baik dalam bentuk informal, maupun nonformal.
     
      Pemikiran dan kajian tentang pendidikan dilakukan oleh para ahli dalam berbagai sudut tinjauan dan disiplin ilmu seperti agama, filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, sejarah, dan antropologi. Sudut tinjauan ini menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan kependidikan yang berpangkal dari sudut tinjauannya, yaitu pendidikan agama, filsafat pendidikan, sosiologi pendidikan, sejarah pendidikan, ekonomi pendidikan, politik pendidikan dan sebagainya.[1][1]
      Maka dari itu sangat diperluhkan untuk mempelajari tentang pengertian filsafat pendidikan Islam serta Ruang lingkup filsafat pendidikan islam guna untuk menambah wawasan mengenai perihal tersebut.
B. Rumusan Masalah
      Berangkat dari latar belakang maka kami menarik beberapa rumusan masalah yang patut untuk diperbincangkan, diantaranya:
1.      Bagaimana Prinsip Kaidah dari suatu Agama?
2.      Apa saja Macam-macam agama yang ada didunia?
3.      Apa saja Sumber Ajaran dari suatu Agama?
4.      Apa Fungsi Agama Bagi kehidupan?
5.      Apa pengertian dari filsafat agama islam?
6.      Bagaimana prinsip kaidah Agama Islam ?
7.      Apa saja sumber ajaran agama islam?
8.      Apa fungsi agama islam bagi kehidupan?

C. Tujuan
1. Menjelaskan kepada siswa tentang apa saja prinsip kaidah dari suatu agama.
2. menjelaskan kepada siswa bahwa didunia ini banyak terdapat berbagai macam agama, dan sebagai umat islam kita harus tetap saling menghormati.
3. menjelaskan kepada siswa bahwa tiap-tiap agama pasti mempunyai sumber ajaran yang  dibuat sebagai pedoman.
4. menjelaskan kepada siswa tentang fungsi dari suatu agama.
 5. menjelaskan kepada siswa mengenai filsfat agama islam
6. menjelaskan kepada siswa mengenai prinsip kaidah agama islam.
7. menjelaskan kepada siswa  tentang sumber ajaran agama islam.
8. menjelaskan kepada siswa tentang fungsi agama islam dan agar kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Kaidah Suatu Agama
Seperti yang kita ketahui,semua agama pasti memiliki prinsip kaidah agama, tetapi tidak semua agama memiliki persamaan prinsip yang sama, ada beberapa agama yang memiliki perbedaan prinsip yang cukup mencolok. Belakangan  ini banyak sekali orang-orang yang tidak bisa mengenali agama yang diyakininya, sehingga tidak bisa mengenali prinsip kaidah agama yang diyakininya.
Hal tesebut diharapkan tidak terjadi secara terus menerus, karena suatu agama itu bagaikan rumah yang dapat melindungi kita dari gangguan-gangguan yang berasal dari luar diri kita. Begitu juga dengan prinsip kaidah agama itulah yang dapat  menjadikan kita menjadi lebih baik lagi dan melindungi kita dari gangguan-gangguan yang dapat menggoyahkan keimanan (keprcayaan)  kita. Prinsip kaidah agama tersebut berisi tentang falsafah dan ajaran-ajaran agama dan juga fungsi serta cara menjalani hidup berdasarkan agama. Makalah ini diharapkan  dapat menjadi pelajaran dan ilmu agama yang bisa memperkuat keimanan kita terhadap agama yang diyakini
Kita sebagai umat islam harus mempunyai prinsip kaidah agama islam ynag kokoh. Para ulama sering menjelaskan tiga prinsip yang harus jadi pegangan setiap muslim. Jika prinsip ini dipegang, barulah ia disebut muslim sejati.
Para ulama mengatakan, Islam adalah:

الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
Berserah diri pada Allah dengan mentauhidkan-Nya, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik.

Prinsip pertama: Berserah diri pada Allah dengan bertauhid
Maksud prinsip ini adalah beribadah murni kepada Allah semata, tidak pada yang lainnya. Siapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Begitu pula orang yang berserah diri pada Allah juga pada selain-Nya (artinya: Allah itu diduakan dalam ibadah), maka ia disebut musyrik. Yang berserah diri pada Allah semata, itulah yang disebut muwahhid (ahli tauhid).
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah. Sesembahan itu beraneka ragam, orang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan.


Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ      
Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

Prinsip kedua: Taat kepada Allah dengan melakukan ketaatan
Orang yang bertauhid berarti berprinsip pula menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Jadi tidak cukup menjadi seorang muwahhid (meyakini Allah itu diesakan dalam ibadah) tanpa ada amal.

Prinsip ketiga: Berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik
Tidak cukup seseorang berprinsip dengan dua prinsip di atas. Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik. Jadi prinsip seorang muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. Seorang muslim harus membenci dan memusuhi mereka karena Allah. Karena prinsip seorang muslim adalah mencintai apa dan siapa yang Allah cintai dan membenci apa dan siapa yang Allah benci.
Demikianlah dicontohkan oleh Ibrahim ‘alaihis salam di mana beliau dan orang-orang yang bersama beliau[1] berlepas diri dari orang-orang musyrik. Saksikan pada ayat,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah.” (QS. Al Mumtahanah: 4).


2.2 Macam-Macam Agama
======================================================
Dan orang2x yang kafir itu amal2x mereka adalah laksana fatamorgana di
tanah yang datar, yang disangka air oleh orang2x yang dahaga, tetapi
bila didatanginya air itu dia tidak mendapati sesuatu apapun.......
(Q.S. An-Nuur : 39)
======================================================

AGAMA-AGAMA DI DUNIA.

Ada beberapa agama yang berdasarkan monoteisme (agama Samawy) yaitu
agama yang berasal dari wahyu Allah melalui Rasul2x-Nya, untuk
disampaikan kepada umat masing2x dan ada juga beberapa agama yang lahir
dari ide2x manusia sendiri (agama Thabi'i) seperti politeisme yang
meyakini adanya banyak tuhan atau dewa, dengan menyembah berhala2x
buatan mereka sendiri.

A. AGAMA THABI'I.

1. Hinduisme.
Percaya adanya ratusan dewa dengan kekuasaan dan patung masing2x,
terutama 3 dewa yang utama (trimurti) : Brahma, Wisnu dan Syiwa.

2.Zoroastrianisme.
Lahir 7 abad SM yang mempercayai Ahura Mazda sbg Tuhan dimana
pengikutnya memuja api.

3.Budhisme.
Lahir 6 abad SM, pengikut2xnya memuja Budha Gautama dengan ajarannya :
Budha, Dharma, Sangkha.

4.Taoisme.
Lahir 3 abad SM oleh Lao Tse, sebagai Tuhan dalam sistem keagamaan
bangsa Cina.

5.Konfusianisme.
Lahir pada 551 tahun SM, diajarkan oleh Confusius dengan kepercayaan
kepada leluhur/nenek moyang bangsa Cina.

6.Shintoisme.
Diperkenalkan sebagai agama nasional bangsa Jepang tahun 1868
yang memuja kepada alam dan dewa2x serta pahlawan2x mereka.



7.Shikisme.
Diajarkan di India oleh Guru Nanak yakni campuran paham2x Hinduisme dan
Muslim namun sangat menyimpang dari ajaran Islam. Kepercayaan ini serupa
dengan aliran Kebatinan di negara kita Indonesia.


B. AGAMA SAMAWY.

1.Yudaisme.
Yang dibawa oleh Nabi Musa AS untuk Bani Israel atau Yahudi semula
bertauhid suci namun kemudian menyembah Sapi Emas.

2.Kristen.
Melalui Nabi Isa AS sebagai kelanjutan/penggenap ajaran2x Nabi Musa AS
buat Bani Israel, namun kini menyimpang kepada ajaran Trinitas yang
diajarkan oleh Paulus yang semuanya berdasarkan Mithos dari kaum
pagau/Yunani yakni zaman Sebelum Masehi (SM) antara lain :
            a.Trinitas orang2x India : Okteu, Nesse, Atahuta.
            b.Trinitas penganut Hindu : Brahma, Wisnu, Syiwa.
            c.Di Mesir Kuno : Isis, Hories, Orisis.
            d.Orang2x Yunani : Phanes, Uranos, Kronos.
            e.Orang2x Romawi : Yupiter, Menerva, Juno.

3.Islam.
Penerus dan penutup agama2x Allah, berdasarkan Tauhid suci (Monotheisme
absolut) oleh Nabi Muhammad SAW.

Adapun Atheisme dan kepercayaan Animisme tidak bisa dianggap sebagai
agama karena tidak memiliki ajaran2x pokok ketuhanan.

Atheisme adalah kepercayaan orang bahwa Tuhan itu tidak ada, bahwa
dirinya dan seisi alam ini hanya terjadi dengan sendirinya saja.
Sedangkan Animisme adalah kepercayaan kepada suatu daya kekuatan hidup
atau kekuasaan yang keramat dan tidak berpribadi, yang dapat dianggap
halus ataupun berjasad (benda bernyawa/punya roh).

Studi perbandingan ini penting karena akan memberikan dampak positif
terutama buat kini para generasi muda Muslim yang ingin menegakkan agama
suci ini dan mempertahankan diri dari setiap usaha yang akan
merusakkannya terutama dari pengaruh2x yang menyelinap ketengah2x umat
Islam sendiri secara halus (baik yang kita hadapi secara sadar maupun
tidak).



2.3 Sumber Ajaran  Suatu Agama Dan Sumber Ajaran Agama Islam
               Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari
oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia
adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah
konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang
memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa
pengertian yang sering kita dengar saja (seperti "demokrasi", "hak asasi
manusia", dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda)
dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda
pula pemahamannya.

               Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang
memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh
adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari
satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran
kepercayaan.

               Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat
sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?

               Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak "mengundang" untuk
dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah "tahan bantingan" untuk kurun
waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah
ajaran-ajaran "kuno" ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan
kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?

               Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja "dikelabuhi". Kita tidak
bisa begitu saja bilang: "Agama X ini benar, karena kitab sucinya bilang
begitu .... ". Dan: "Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya.
Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu...".

               Logika "circular" (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman
manusia modern. Suatu "teori kebenaran" hanya akan bertahan, kalau ia tidak
bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena
suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses
pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita
sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.

Suatu ajaran bisa dianggap benar, bila ia:

   * stabil intern - ajarannya harmoni, tidak bertentangan satu dengan yang
     lain.
   * stabil extern - ajarannya tidak bisa disalahkan dengan bukti-bukti
     dari luar (misalnya dengan fakta-fakta ilmu alam).



               Dalam hal ini tentu saja kita harus bertolak dari ajaran yang murni (ajaran
Das Sollen), yakni yang ada di sumber-sumber ajaran itu sendiri (kitab-kita
suci), dan bukan ajaran yang sedang dipraktekkan oleh pemeluknya, yang
mungkin saja tidak mempraktekkan ajarannya dengan benar (ajaran Das Sein).
Sumber Ajaran Agama Islam: Al-Qur’an Dan Sunnah
A. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang utama. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya sebagai berikut:
”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al=Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15:9)
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an. Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS 4:82
Kandungan Al-Qur’an, antara lain adalah:
  1. Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, hari akhir, qodli-qodor, dan sebagainya.
  2. Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaiman amenjalin hubungan kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas, mu’amalah).
  3. Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir).
  4. Kisah-kisa sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan.
  5. Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan: astronomi, fisika, kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra, budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.
Keutamaan Al-Qur’an ditegaskan dalam Sabda Rasullullah, antara lain:
  1. Sebaik-baik orang di antara kamu, ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya
  2. Umatku yang paling mulia adalah Huffaz (penghafal) Al-Qur’an (HR. Turmuzi)
  3. Orang-orang yang mahir dengan Al-Qur’an adalah beserta malaikat-malaikat yang suci dan mulia, sedangkan orang membaca Al-Qur’an dan kurang fasih lidahnya berat dan sulit membetulkannya maka baginya dapat dua pahala (HR. Muslim).
  4. Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan Allah tersebut dengan kemampuanmu (HR. Bukhari-Muslim).
  5. Bacalah Al-Qur’an sebab di hari Kiamat nanti akan datang Al-Qur’an sebagai penolong bagai pembacanya (HR. Turmuzi).



Fungsi Al-Qur’an antara lain adalah:
  1. Menerangkan dan menjelaskan (QS. 16:89; 44:4-5)
  2. Al-Qur’an kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS. 2: 91, 76)
  3. Pembenar (membenarkan kitab-kitab sebelumnya) (QS. 2: 41, 91, 97; 3: 3; 5: 48; 6: 92; 10: 37; 35: 31; 46: 1; 12: 30)
  4. Sebagai Furqon (pembeda antara haq dan yang bathil, baik dan buruk)
  5. Sebagai obat penyakit (jiwa) (QS. 10: 57; 17:82; 41: 44)
  6. Sebagai pemberi kabar gembira
  7. Sebagai hidayah atau petunjuk (QS. 2:1, 97, 185; 3: 138; 7: 52, 203, dll)
  8. Sebagai peringatan
  9. Sebagai cahaya petunjuk (QS. 42: 52)
  10. Sebagai pedoman hidup (QS. 45: 20)
  11. Sebagai pelajaran
B. As-Sunnah
Sunnah dalam bahasa berarti tradisi, kebiasaan adat-istiadat. Dalam terminologi Islam, sunnah berarti perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi Muhammad SAW (af’al, aqwal, dan taqrir).
Dalam mengukur keotentikan suatu hadits (As-Sunnah), para ahli telah menciptakan suatu ilmu yang dikenal dengan ”musthalah hadits”. Untuk menguji validitas dan kebenaran suatu hadits, para muhadditsin menyeleksinya dengan memperhatikan jumlah dan kualitas jaringan periwayat hadits tersebut yang dengan sanaad.
Macam-macam As-Sunnah:
  • ditinjau dari bentuknya
    1. Fi’li (perbuatan Nabi)
    2. Qauli (perkataan Nabi)
    3. Taqriri (persetujuan atau izin Nabi)
  • ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya
    1. Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak
    2. Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai (jumlahnya) kepada derajat mutawir
    3. Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang.
  • Ditinjau dari kualitasnya
    1. Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah
    2. Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi hafalan pembawaannya yang kurang baik.
    3. Dhaif, yaitu hadits yang lemah
    4. Maudhu’, yaitu hadits yang palsu.


  • Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya
    1. Maqbul, yang diterima.
    2. Mardud, yang ditolak.
Kedudukan As-Sunnah:
  1. Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an
  2. Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapat siksa (QS. Al-Mujadilah, 58: 5)
  3. Menjadikan Sunnah sebagai sumber hukum adalah tanda orang yang beriman (QS. An-Nisa’, 4: 65)
Perbedaan Al-Qur’an dengan As-Sunnah:
  • Segala yang ditetapkan Al-Qur’an adalah absolut nilainya. Sedangkan yang ditetapkan As-Sunnah tidak semuanya bernilai absolut. Ada yang bersigat absolut, ada yang bersifat nisbi zhanni
  • Penerimaan seorang muslim terhadap Al-Qur’an adalah dengan keyakinan. Sedangakan terhadap As-Sunnah, sebagian besar hanyalah zhanny (dugaan-dugaan yang kuat).


 2.4 Filsafat agama islam
Filsafat berasal dari kata yunani, yaitu “Phitosophia”, kata yang berangkai dari kata “Phielen”, yang berarti nien cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. Philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan. Orang yang bersifat atau orang yang melakukan filsafat tersebut “Filsuf” atau “Filosof”, artinya pecinta kebijaksanan.
Pembentukan kata kata filsafat menjadi kata indonesia diambil dari kata barat fil dan safat dari kota Arab sehingga menjadi gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat. Jadi, secara sederhana “Filsafat” adalah hasil kerjaberfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal.
Filsafat islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran islam dalam suatu aturan pemikiran yamg logis dan sistematis.
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi) akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan.

Meyakini adanya Tuhan adalah masalah fithri yang tertanam dalam diri setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya fitrah mereka redup atau bahkan padam.

Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para ahli ma’rifat berkata, “Jalan-jalan menuju ma’rifatullah sebanyak nafas makhluk.” Salah satu jalan ma’rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli Hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satu-satunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al Quran dan Hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat dan riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra’yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al Quran dan Hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah.

Perkataan Illah, yang selalu diterjemahkan "Tuhan" Dalam bahasa Alquran dipakai untuk menyatakan berbagai objek yang dibesarkan dan dipentingkan oleh manusia, misalnya dalam QS.Al jatsiyah (45) ; 23.
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ۬ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةً۬ فَمَن يَہۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٢٣)
Ayat diatas menunjukkan bahwa perkataan illah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja). Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Illah yang tepat, berdasarkan logika Alquran sebagai berikut :
Tuhan (Ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.

Dalam ajaran islam diajarkan “la ilaaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan yaitu Allah.

2.5 Fungsi agama
Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
  • Karena agama merupakan sumber moral
  • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
  • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.
Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
  • Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah ataukebaikan.
  • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan
Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.


Fungsi Agama Kepada Manusia
Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah:
- Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT
-Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
- Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
– Memainkan fungsi kawanan sosial.
Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial
Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor).
Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat.
Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.
Fungsi Disintegratif Agama.
Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain
Tujuan Agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama
Beberapa tujuan agama yaitu :
  • Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Esa (tahuit).
  • Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan  baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.
  • Menyempurnakan akhlak manusia.
Menurut para peletak dasar ilmu sosial seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagi umumnya agamawan, agama merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya –bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin)– dalam kehidupan kemanusiaan.
Masalahnya, di balik keyakinan para agamawan ini, mengintai kepentingan para politisi. Mereka yang mabuk kekuasaan akan melihat dengan jeli dan tidak akan menyia-nyiakan sisi potensial dari agama ini. Maka, tak ayal agama kemudian dijadikan sebagai komoditas yang sangat potensial untuk merebut kekuasaan.
Yang lebih sial lagi, di antara elite agama (terutama Islam dan Kristen yang ekspansionis), banyak di antaranya yang berambisi ingin mendakwahkan atau menebarkan misi (baca, mengekspansi) seluas-luasnya keyakinan agama yang dipeluknya. Dan, para elite agama ini pun tentunya sangat jeli dan tidak akan menyia-nyiakan peran signifikan dari negara sebagaimana yang dikatakan Hobbes di atas. Maka, kloplah, politisasi agama menjadi proyek kerja sama antara politisi yang mabuk kekuasaan dengan para elite agama yang juga mabuk ekspansi keyakinan.
Namun, perlu dicatat, dalam proyek “kerja sama” ini tentunya para politisi jauh lebih lihai dibandingkan elite agama. Dengan retorikanya yang memabukkan, mereka tampil (seolah-olah) menjadi elite yang sangat relijius yang mengupayakan penyebaran dakwah (misi agama) melalui jalur politik. Padahal sangat jelas, yang terjadi sebenarnya adalah politisasi agama.
Di tangan penguasa atau politisi yang ambisius, agama yang lahir untuk membimbing ke jalan yang benar disalahfungsikan menjadi alat legitimasi kekuasaan; agama yang mestinya bisa mempersatukan umat malah dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan umat, atau bahkan dijadikan dalil untuk memvonis pihak-pihak yang tidak sejalan sebagai kafir, sesat, dan tuduhan jahat lainnya.
Menurut saya, disfungsi atau penyalahgunaan fungsi agama inilah yang seyogianya diperhatikan oleh segenap ulama, baik yang ada di organisasi-organisasi Islam semacam MUI. Ulama harus mempu mengembalikan fungsi agama karena Agama bukan benda yang harus dimiliki, melainkan nilai yang melekat dalam hati.
Mengapa kita sering takut kehilangan agama, karena agama kita miliki, bukan kita internalisasi dalam hati. Agama tidak berfungsi karena lepas dari ruang batinnya yang hakiki, yakni hati (kalbu). Itulah sebab, mengapa Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa segala tingkah laku manusia merupakan pantulan hatinya. Bila hati sudah rusak, rusak pula kehidupan manusia. Hati yang rusak adalah yang lepas dari agama. Dengan kata lain, hanya agama yang diletakkan di relung hati yang bisa diobjektifikasi, memancarkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, kita lebih suka meletakkan agama di arena yang lain: di panggung atau di kibaran bendera, bukan di relung hati
Fungsi pertama agama, ialah mendefinisikan siapakah saya dan siapakah Tuhan, serta bagaimanakah saya berhubung dengan Tuhan itu. Bagi Muslim, dimensi ini dinamakan sebagai hablun minaLlah dan ia merupakah skop manusia meneliti dan mengkaji kesahihan kepercayaannya dalam menghuraikan persoalan diri dan Tuhan yang saya sebutkan tadi. Perbincangan tentang fungsi pertama ini berkisar tentang Ketuhanan, Kenabian, Kesahihan Risalah dan sebagainya.
Kategori pertama ini, adalah daerah yang tidak terlibat di dalam dialog antara agama. Pluralisma agama yang disebut beberapa kali oleh satu dua penceramah, TIDAK bermaksud menyamaratakan semua agama dalam konteks ini. Mana mungkin penyama rataan dibuat sedangkan sesiapa sahaja tahu bahawa asas agama malah sejarahnya begitu berbeza. Tidak mungkin semua agama itu sama!
Manakala fungsi kedua bagi agama ialah mendefinisikan siapakah saya dalam konteks interpersonal iaitu bagaimanakah saya berhubung dengan manusia. Bagi pembaca Muslim, kategori ini saya rujukkan ia sebagai hablun minannaas.


Ketika Allah SWT menurunkan ayat al-Quran yang memerintahkan manusia agar saling kenal mengenal (Al-Hujurat 49: 13), perbezaan yang berlaku di antara manusia bukan sahaja meliputi perbezaan kaum, malah agama dan kepercayaan. Fenomena berbilang agama adalah seiring dengan perkembangan manusia yang berbilang bangsa itu semenjak sekian lama.
Maka manusia dituntut agar belajar untuk menjadikan perbedaan itu sebagai medan kenal mengenal, dan bukannya gelanggang krisis dan perbalahan.
Untuk seorang manusia berkenalan dan seterusnya bekerjasama di antara satu sama lain, mereka memerlukan beberapa perkara yang boleh dikongsi bersama untuk menghasilkan persefahaman. Maka di sinilah, dialog antara agama (Interfaith Dialogue) mengambil tempat. Dialog antara agama bertujuan untuk menerokai beberapa persamaan yang ada di antara agama. Dan persamaan itu banyak ditemui di peringkat etika dan nilai.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Seperti yang kita ketahui,semua agama pasti memiliki prinsip kaidah agama, tetapi tidak semua agama memiliki persamaan prinsip yang sama, ada beberapa agama yang memiliki perbedaan prinsip yang cukup mencolok. Akan tetapi,Kita sebagai umat islam harus mempunyai prinsip kaidah agama islam yang kokoh. Para ulama sering menjelaskan tiga prinsip yang harus jadi pegangan setiap muslim:
1. Berserah diri pada Allah dengan bertauhid
2. Taat kepada Allah dengan melakukan ketaatan
3. Berlepas diri dari syirik dan pelaku syirik
2.  Ada beberapa agama yang berdasarkan monoteisme (agama Samawy) yaitu
agama yang berasal dari wahyu Allah melalui Rasul2x-Nya, untuk
disampaikan kepada umat masing2x dan ada juga beberapa agama yang lahir
dari ide2x manusia sendiri (agama Thabi'i) seperti politeisme yang
meyakini adanya banyak tuhan atau dewa, dengan menyembah berhala2x
buatan mereka sendiri.
3. setiap agama pasti mempunyai sumber ajaran yang digunakan acuan dan pedoman dalam menjalankan syari’atnya di kehudupan sehari-hari, dan kita sebagai umat islam mempunyai kewajiban untuk mematuhi sumber ajaran agama kita yakni Al-qur’an dan Assunah, serta ijma’ para ulama’ yang telah disepakati dan bersumber dari Al’qur’an dan Assunah.
4. Filsafat islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran islam dalam suatu aturan pemikiran yamg logis dan sistematis.
5. fungsi agama diantaranya adalah sebagai sumber moral, petunjuk kebenaran, sember informasi tentang masalah metafisika, dan bimbingan rohani bagi manusia.


SARAN

Dalam beragama kita telah di ajarkan hal-hal yang baik dan hal-hal yang kurang baik, mana yang baik untuk kita lakukan dan hal yang seharusnya tidak kita lakukan. Kita tidak perlu mempermasalahkan mana agama yang baik dan mana agama yang kurang baik, setiap manusia pasti tahu apa yang terbaik untuk nya dan dia telah memilih yang terbaik untuk nya temasuk dalam hal memeluk agama. Perbedaan agama tidak lah seharus nya di jadikan sebagai permasalahan, pada dasar nya manusia memiliki keyakinan dan kepercayaan sendiri-sendiri. Dan kita harus saling menghormati, dan selalu menjalankan syari’at agama kita masing-masing.